Minggu, 12 Februari 2012


Wow, Filsafat Itu Mengasyikkan!


Seberapa besar minat Anda pada filsafat?
Apakah hanya sekadar keharusan untuk membaca literatur –literatur tebal karena tugas kuliah?
Nah, sekarang banyak cara untuk menjadikan filsafat sebagai bahan yang menarik untuk dibaca. Jostein Gaarder menampilkannya dalam novel sarat misteri dan teka-teki, Dunia Sophie. Memang menjadi unik mengikuti alur hasil pemikiran para filsuf yang telah menuangkan gagasan-gagasan mereka selama kurun 3.000 tahun ke belakang dalam bacaan yang disederhanakan dalam bentuk novel semi detektif. Pertanyaan lanjutannya, adakah yang lebih mengasyikkan, tetap berbobot, sekaligus kocak?
Jika kerumitan hasil olah pikir dan rekam jejak para filsuf yang tercantum dalam rupa novel masih membuat dahi Anda berkerut, alias mengurungkan niat untuk membaca, maka cobalah simak bagaimana “duet unik” Fred van Lente dan Ryan Dunlavey lewat Filsuf Jagoan! mereka. Jika selama ini hasil pemikiran para filsuf disajikan lewat buku teks ataupun novel, maka kini mereka menghadirkannya dalam rupa komik. Fred van Lente yang memeroleh gelar B.A with Honors  dalam bidang studi tekstual dan bahasa Inggris dari Syracuse University, menyumbangkan bagian naskah dalam buku. Sedangkan rekan setimnya Ryan Dunlavey menggarap bagian ilustrasi/komik dari buku yang pada edisi aslinya berjudul Action Philosopers Giant-Size Thing Volume 1. Ryan yang belajar ilustrasi, seni murni, dan penulisan kreatif pada Syracuse University dan animasi di School of Visual Arts berhasil mengurangi keengganan pembaca untuk larut dalam keruwetan pemikiran para filsuf lewat goresannya yang kocak.
Menilik sederet nama yang ditempelkan pada cover, tentulah cukup menggugah rasa ingin tahu untuk menelusuri bagaimanakah gerangan kritik dialektika Sokrates dalam mengolok-olok pedoman hidup warga Athena ditampikan. Namun tidak hanya Socrates, pada halaman-halaman berikutnya secara jenaka dihadirkan kombinasi biografi dan pemikiran para filsuf semisal, Bodhidharma, Nietzsche, Thomas Jefferson, Santo Agustinus, Ayn Rand, Sigmund Freud, Carl Jung, hingga Joseph Campbel. Tentu saja tanpa melewatkan gagasan Plato di bahasan pertama buku.
Meskipun hadir dalam bentuk komik, bukan berarti hanya kumpulan gambar minim kata. Seperti pernah disampaikan Scoot Mc  Cloud dalam bukunya Making Comic, keberadaan gambar dan kata begitu lekat dalam hubungan tak terpisahkan dan saling mengisi satu sama lain. Hal tersebut misalnya nampak  dalam penggambaran pendapat para pemikir zaman pencerahan, yang menyatakan bahwa “…terpisahnya manusia dari Tuhan adalah ulah birokrasi lembaga keagamaan buatan manusia yang kelewat rumit, kebangetan, dan tidak alami! (hlm. 33) Memperkuat kesan tersebut diilustrasikan seorang rakyat jelata berpakaian compang-camping menghadap seseorang (pemuka agama?) yang duduk di belakang meja receptionist sambil berucap dalam balon kata: ”Aduh, maaf aja pak. Tapi Tuhan lagi sibuk banget. Jadi kalo bapak belum bikin janji buat ketemu, saya ga bisa kasi masuk…” (hlm. 33). Dalam panel yang sama tampak pula seorang pria berjanggut digambarkan tertidur di atas sofa dengan pintu setengah terbuka bertuliskan GOD.
Selain itu tentu saja masih banyak gambaran lucu, unik, dan mengejutkan. Hanya saja penerbitan dalam rangkaian seri memberi nilai plus dan juga minus.  Mereka yang ingin mengoleksi secara lengkap tentulah harus membeli satu-persatu seri setiap kali diterbitkan, sedangkan bagi mereka yang hanya ingin membeli buku dengan sejumlah nama tertentu dari filsuf yang dijagokan dapat membeli hanya seri tertentu saja.
Bagaimanapun, terlepas dari plus dan minusnya tentulah buku ini adalah sebuah kado unik dari dunia filsafat yang dengan indah telah berhasil dipaketkan lewat cara ungkap komik. Tak berlebihan kiranya sejumlah sanjungan ditujukan bagi buku ini. Seperti yang diterakan pada halaman sampul belakang, Philosophy Now menyatakan: “Filsuf Jagoan! Menyajikan ikhtisar pemikiran berbobot dengan ringan, gampang dicerna, dan bakal disukai oleh orang awam maupun para cendekia.” Dalam ragam ungkap yang lain Comics Buyer’s Guide menyatakan: ”Celetukan yang nakal dan bertubi-tubi… gambarnya kocak dan akrab… jarang topik mengerikan dan mengawang-awang macam filsafat bisa dibuat mudah dimengerti seperti dalam Filsuf Jagoan!” 
Nah, sekarang seberapa tergugah Anda membaca buku ini? (gL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar