Kamis, 20 Januari 2011

Menengok Dinamika Bacaan Anak


























“MR. FOX dan ketiga Fox kecil menggali dengan cepat, arahnya lurus. Mereka sekarang begitu bersemangat sehingga tidak merasa lelah atau lapar. Mereka tahu tidak lama lagi akan makan besar-besaran, dan mengetahui bahwa ayam Boggis-lah yang akan mereka makan membuat mereka tertawa terbahak-bahak setiap kali teringat hal itu” (Dahl 2001:53).

Begitulah sepenggal cerita yang terdapat dalam buku berjudul Mr. Fox yang Fantastis (Edisi Bahasa Indonesia diterj. oleh Pandia) karya Roald Dahl dan beberapa seri lainnya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kehadiran buku-buku asing kini tengah membanjiri pasar buku anak dan juga dewasa dengan tingkat variasi cerita yang cukup tinggi. Sebut saja JK. Rowling dengan tujuh seri Harry Potter-nya telah membius jutaan pembaca anak dan juga pembaca remaja bahkan dewasa. Selain itu serial suspense seperti karya-karya RL. Stine dan HC. Andersen melalui dongeng-dongengnya yang legendaris.

Bacaan anak secara isi dan bentuk memiliki beberapa perbedaan dengan bacaan biasa (dewasa) yang menitikberatkan pada sudut pembaca itu sendiri. Walaupun sastra anak tak ubahnya seperti sastra dewasa yaitu menghadirkan kesenangan dan pemahaman, namun menurut Nurgiyantoro (2005:9) berpendapat bahwa sastra anak memiliki sejumlah keterbatasan dalam pengalaman kehidupan yang dikisahkan, cara mengisahkan dan bahasa yang dipergunakan. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya pengalaman anak sehingga belum dapat memahami cerita dengan latar pengalaman hidup yang kompleks.

Sastra anak terbagi menjadi dua macam yaitu fiksi dan nonfiksi. Dan pada masing-masing jenis memiliki genre tersendiri.

Genre sastra anak fiksi dapat dikelompokkan menjadi enam macam, yaitu realisme, fiksi formula, fantasi, sastra tradisional, puisi dan nonfiksi dengan catatan pada masing-masing genre masih memiliki beberapa subgenre.

Realisme yang dimaksudkan adalah adanya penceritaan peristiwa yang masuk akal dengan menampilkan narasi fiksional yang menampilkan tokoh dalam tempat dan waktu yang menarik. Misalnya cerita tentang Perang Diponegoro, atau kisah sukses orang-orang terkemuka. Selanjutnya salah satu genre disebut fiksi formula karena memiliki pola-pola tertentu yang membedakannya dengan jenis cerita yang lain. Yang termasuk ke dalam genre ini diantaranya adalah cerita misteri dan cerita detektif. Cerita yang menyuguhkan sesuatu yang sulit diterima atau derajat kebenarannya masih diragukan merupakan ciri dari genre fantasi. Genre lain adalah sastra tradisional yaitu cerita yang telah mentradisi pada suatu kelompok masyarakat dan tidak diketahui penulis maupun kapan cerita tersebut diciptakan. Bentuk sastra tradisional dapat berupa fabel, dongeng rakyat, mitos, epos, dan juga legenda. Belakangan cerita jenis ini marak diterbitkan dalam bentuk buku dengan tujuan untuk melestarikan karya-karya tersebut. Genre puisi anak menekankan pada kesederhanaannya; yaitu dalam baris-baris yang relatif pendek dan kadangkala merupakan puisi naratif (di dalamnya mengandung suatu cerita).

Meskipun pengkategorian bacaan nonfiksi sebagai genre sastra anak masih dalam perdebatan, namun mengingat sejumlah buku jenis ini ditulis secara artistik dengan memperhatikan segi bentuk dan isinya sehingga dapat dimasukkan ke dalam sastra anak. Bacaan yang termasuk dalam jenis nonfiksi meliputi; biografi dan buku informasi.

Selain beberapa kategori tersebut, yang perlu mendapat perhatian adalah tampilnya komik sebagai ‘trend’ bacaan anak bahkan sampai kalangan dewasa. Komik memiliki keunikan dalam tema cerita, kekhasan goresan pengarangnya, ataupun dialog yang disertakan. Sehingga komik seolah mampu memberikan dua macam hiburan kepada pembacanya. Yaitu berupa media gambar dan juga deskripsi (tulisan) yang harus disimak secara bersama-sama untuk dapat mengerti tentang isi komik. Walaupun ada beberapa komik yang tidak menyertakan tulisan untuk deskripsi cerita maupun dialognya. Komik Gong karya Masashi Tanaka misalnya, menceritakan kehidupan hewan dengan artistik yang luar biasa dengan tidak menyertakan dialog maupun sekadar deskripsi dalam pengisahannya.
Dengan beragamnya bacaan bagi anak, mau tidak mau seorang anak akan mendapat berbagai macam informasi yang dapat berpengaruh bagi perkembangannya. Melalui bacaan, seorang anak dituntun untuk memahami sekitarnya melalui banyak cara dan genre sastra. Hal ini tidak menutup kemungkinan masuknya unsur-unsur yang tidak diinginkan yang dapat mempengaruhi perkembangan pola pikir dan perilaku mereka. Sehingga diperlukan semacam pengawasan dan pengarahan (bukan pengekangan) potensi minat baca mereka agar dapat memberi manfaat positif yang optimal dalam rangka membangun sisi intelektual anak tanpa harus mengabaikan faktor kesenangan mereka dalam memeroleh informasi.

OEROEG:Cinta Terlarang dan Kawan Fiktif yang Mendunia



Realitas objektif dan realitas imajinatif ibarat bidang baur yang unik dalam dunia sastra. Kadang keduanya begitu jelas putih hitamnya. Tak jarang justru adalah sebuah ramuan yang menjelmakan komposisi abu-abu.


Banyak tokoh yang terekam perjalanan hidupnya selama tinggal di Indonesia melalui otobiografi ataupun biografi melalui kisahan orang lain. Damien Dematra misalnya, mengetengahkan potongan kehidupan Presiden Amerika, Barrack Hussein Obama selama masa kecilnya di Menteng dalam sebuah novel yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama yaitu Obama Anak Menteng. Sementara itu meski hanya menceritakan tokoh yang “biasa-biasa” dan tidak nyata, sebuah novel lain juga telah difilmkan. Novel tersebut karya Hella S. Haasse yang menghadirkan cerita unik tentang perjalanan sepasang sahabat; “Aku” dan “Oeroeg”. Baik tokoh aku dan Oeroeg boleh jadi hanya fiktif, tetapi latar yang melingkupinya begitu kental dengan perjalanan sejarah bangsa, terutama di masa Kolonial.

Haase yang seorang berkebangsaan Belanda namun lahir dan melewatkan masa kecil hingga remaja di Indonesia begitu terpesona dengan dunia sekelilingnya, terutama kawasan perkebunan teh di Sukabumi.

Cerita yang didominasi dengan narasi dibanding dialog antartokoh tersebut dimulai dengan sebuah kalimat pendek, Oeroeg kawanku, berlanjut dengan kisah masa (bahkan) sebelum Aku dilhirkan meskipun menggunakan sudut pandang “aku” dalam pengisahannya. Hampir di saat yang bersamaan Aku terlahir dengan seorang anak lain, yaitu Oeroeg. Oeroeg adalah gambaran bumiputera yang terlahir dari pasangan suami istri Deppoh dan Sidris. Bedanya, Aku bukanlah bagian dari kaum inlander. Ayahnya adalah seorang administrateur (pengurus perkebunan milik Belanda) di daerah Priangan.

Sejak awal kedua tokoh sesungguhnya memang berbeda. Selain dalam rupa warna kulit yang kasat mata, juga dalam kedudukan dan status. Ayah Oeroeg adalah seorang mandor. “Oeroeg putra sulung mandor ayahku” (hlm. 6). Pemersatu mereka adalah waktu dan ruang yang tak pernah kekal. Tumbuh di lingkungan yang sama, melewati masa kanak-kanak hingga remaja yang hampir seragam justru membawa mereka pada muara hidup yang jauh berbeda. Keduanya mengenyam pendidikan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Aku kemudian melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School). Sedangkan Oerog melanjutkan ke NIAS. Perbedaan lingkungan dan statuslah yang berperan dominan dalam membentuk karakter masing-masing. Hingga akhirnya keduanya benar-benar berdiri di atas keyakinan dan status masing-masing dalam pertaruhan nyawa. Yang satu mengacungkan senjata sebagai pembela tanah air, satunya lagi berdiri ditodong dari belakang sebagai kaum pendatang yang hendak dimusnahkan dari tanah air. Nah?

Penggunaan nama Oeroeg dalam buku karya Haase ini menjadi pembicaraan sejumlah kalangan mengingat nama tersebut tidak umum digunakan di Indoensia, khususnya di daerah Pasundan. Hingga akhirnya dalam terbitan terbaru oleh Gramedia, novel setebal 144 halaman tersebut disertai catatan tambahan dengan judul Penutup:Oeroeg dan Kebebasan Puitis. Memang, realitas objektif dan realitas imajinatif ibarat bidang baur yang unik dalam dunia sastra. Kadang keduanya begitu jelas putih hitamnya. Tak jarang justru adalah sebuah ramuan yang menjelmakan komposisi abu-abu. Nama Oeroeg bagi pengarang bisa jadi pernah ia dengar ketika masih kanak-kanak dan berjalan-jalan di sekitar pedesaan, yang kemudian mengendap dalam pikiran bawah sadarnya dan mejelma menjadi nama tokoh ketika ia mulai menuliskan cerita itu untuk pertama kalinya.

Oeroeg dapat juga “diduga kuat” adalah bauran rasa cinta pengarang pada tanah kelahirannya. Setelah sekian lama ditinggalkan akhirnya mengendapkan rasa rindu tersendiri. Mengingat posisi pengarang yang bukan warga Indonesia seolah diejawantahkan dengan munculnya tokoh aku sebagai pemegang peran yang terceritakan dalam novel. Bisa jadi ia adalah bayang-bayang dualisme pengarang itu sendiri; ia berstatus sebagai bangsa asing yang kala itu diperangi, tetapi di satu sisi sangat mencintai tanah air tempat ia lahir, tumbuh, dan berkembang. Mengingat jika dicermati lagi antara Oeroeg dan Aku sesungguhnya adalah suatu kesatuan.

Sehingga tak sepenuhnya salah jika dipertanyakan; mungkinkah ini adalah sebuah gambaran di balik perasaan yang terbiaskan, kalau sebenarnya Aku (dan pengarang?) secara diam-diam memiliki perasaan cinta yang begitu dalam terhadap Indonesia namun karena beberapa hal rasa cinta tersebut menjadi terharamkan. Menjadi terlarang?

Baiknya, jika kini cerita tersebut dikaitkan dengan konteks cinta tanah air yang sering diperdebatkan meluntur, maka tempelan kalimat “World Classic” pada sampul buku bisa jadi mengantarkan kita pada nostalgia masa-masa “percumbuan” bumiputera dengan bangsa Belanda di Nusantara tercinta. Bahwa sebenarnya tidak sedikit yang masih menyemai semangat cinta tanah air di dada masing-masing. Walaupun kerap terhalang berbagai hal, tersamarkan di bawah bayang-bayang pemikiran, atau terpisah sekat perbedaan hingga mendewasakannya sebagai cinta terlarang. Buku ini menjadi layak dibaca guna memperkaya cara pandang kita tentang Indonesia.


Jumat, 14 Januari 2011

entah kapan aku bisa habis membacanya?





meski sudah terbeli beberapa waktu lalu, belum juga habis terbaca. bukan lantaran bukunya terlalu tebal, tetapi waktuku tak sempat untuk membacanya.
haha...