Rabu, 21 Januari 2009




INCREASE YOUR FINANCIAL IQ

Buku Cerdas untuk Mengelola Uang dengan Lebih Cerdas


Setelah menghasilkan sejumlah bestseller, Robert T. Kiyosaki mengeluarkan jurus terbarunya yang kali ini masih tak jauh dari satu topik yang dijamin selalu hangat:uang!

Sebelumnya, penulis yang patut berbangga karena buku seri Rich Dad-nya telah diterjemahkan ke dalam 51 bahasa dan didistribusikan di 109 negara ini, telah menulis sejumlah buku yang cukup mencengangkan karena memberikan cara pandang baru tentang uang, cara mendapatkannya, dan juga cara kita memperlakukan uang.

Sejak terbitnya buku pertamanya, Rich Dad Poor Dad, buku-buku yang ditulisnya semakin diminati. Kesuksesan buku yang ditulisnya bersama Sharon L. Lechter tersebut memang spektakuler karena berhasil mencapai jumlah penjualan lebih dari 28 juta eksemplar di seluruh dunia.

Buku terakhir yang ia susun sendiri (tanpa mengikutkan Sharon L. Lechter) seolah ingin mengulang dan mengingatkan kita akan karya-karya penulis yang juga menciptakan papan permainan Cashflow tersebut. Walaupun dalam buku Increase Your Financial IQ tersebut dikupas secara lebih mendalam tentang lima hal yang perlu anda ketahui tentang cara mengelola uang dengan baik, penjelasan lain seolah-olah hanya pengulangan dari buku sebelumnya.

Namun demikian, buku ini patut menjadi bacaan kita semua karena justru dengan ditawarkannya lima IQ keuangan tersebut akan memperlihatkan kepada kita betapa seringnya kita merasa selalu kekurangan uang hanya karena pengelolaan keuangan yang buruk. Dan tentu saja akar permasalahannya adalah rendahnya IQ keuangan kita.

Melalui lima langkah yang dikemukakan secara bertahap dalam setiap bab, Kiyosaki mengungkapkan betapa pentingnya kita untuk mengetahui perlunya IQ keuangan, di antaranya adalah: (1) Menghasilkan lebih banyak uang, (2) Melindungi uang Anda, (3) Menganggarkan uang Anda, (4) Mengenakan leverage atas uang Anda, dan (5) Meningkatkan informasi keuangan Anda. Di samping itu, buku ini menjadi cukup spesial dengan dicantumkannya pengantar oleh Donald J. Trump, walaupun hanya sepanjang satu setengah halaman (dalam versi bahasa Indonesia).

Setelah melihat uraian tersebut, mungkin kita masih akan bertanya-tanya: Apakah buku ini hanya untuk kalangan pebisnis (investor dan pemilik bisnis) seperti pembagian cara mendapatkan uang yang kesohor dari Kiyosaki tersebut? Sekarang semua kunci jawaban ada di tangan kita; apakah kita ingin meningkatkan pemahaman kita tentang keuangan atau selamanya buta (kalau tidak ingin dibilang tidak mau tahu) tentang pengelolaan keuangan yang baik?

Memang seperti yang disebutkan oleh penulisnya, bahwa kecerdasan keuangan adalah segalanya bagi kalangan di kuadran B (pemilik usaha) dan I (investor) karena kecerdasan keuanganlah yang membuat mereka ‘dibayar’ dan mungkin akan dikesampingkan oleh mereka yang berada di kuadran E (karyawan) dan S (pemilik usaha kecil, wirausaha, atau spesialis). Tetapi sesungguhnya jika kita telaah isi buku tersebut, apa yang diutarakan adalah ‘sebuah cara yang benar dalam memandang dan memperlakukan uang’. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mengetahui sebuah formula lagi yang disampaikan penulis yang sekaligus juga investor, pengusaha, dan pendidik tentang uang ini.

Ada sebuah pernyataannya yang mungkin patut kita pertimbangkan ketika dihadapkan kepada dua hal yaitu antara defisit atau surplus dalam anggaran keuangan, baik di tingkat pemerintah, bisnis, dan juga individu. Secara individu, kebanyakan orang mungkin akan menginginkan surplus anggaran atau penghasilan yang lebih besar daripada pengeluaran ketimbang sebaliknya, defisit. Mengenai hal ini Kiyosaki mengatakan:

“Kalau Anda ingin kaya, pilihlah surplus angaran, dan ciptakan hal itu dengan meningkatkan penghasilan, bukan mengurangi pengeluaran (hlm. 94)”

Begitulah nasihatnya di samping wanti-wantinya bahwa berhemat bukanlah cara yang terbaik untuk bisa surplus anggaran. Tentu saja dengan tetap memperhitungkan penggunaan uang tersebut (di samping juga waktu). Di mana ketika kita membandingkan pengeluaran seseorang dalam hal penggunaan uangnya, hal tersebut akan dapat menggambarkan masa depan si pengguna uang itu sendiri (hlm. 102).

Seperti buku-buku terdahulunya; Rich Dad Poor Dad, Rich Dad’s CASHFLOW Quadrant, Rich Dad’s Guide to Investing, Rich Dad’s Rich Kid Smart Kid, Rich Dad’s Retire Young Retire Rich, Rich Dad’s Prophecy, Rich Dad’s Success Stories, Rich Dad’s Guide to Becoming Rich Without Cutting Up Your Credit card, Rich Dad’s Who Took My Money, Rich Dad Poor Dad for Teens, Rich Dad’s Escape from rat race, dan Rich Dad’s Before You Quit Your Job, buku Increase Your Financial IQ menawarkan kepada kita tentang beberapa gagasan baru tentang uang. Bagaimana cara kita memandang dan memperlakukan uang. Dan tentu saja, nasihat-nasihat bijak untuk menjadi kaya! (guna).


Jumat, 16 Januari 2009



Manusia Pisces : Manusia Esoterik, The Man With True Quality


Apakah kamu berbintang Pisces? Kalau memang iya, berbahagialah karena kamu termasuk manusia yang spesial. Bahkan melebihi manusia-manusia dari 12 zodiak yang lainnya. Ngga percaya? Baca deh artikel berikut yang aku temukan dari sebuah majalah yang lumayan lawas di rak penyimpanan buku-buku lama.

Manusia yang lahir antara tanggal 20 Pebruari hingga 21 Maret yang bernaung di bawah bintang berlambang dua ikan yang berenang berlawanan arah, dapat dianggap “tidak memiliki batasan” untuk dideskripsikan. Sebab mereka yang terlahir di bawah pengaruh Neptunus dan Jupiter ini sifatnya sangat tertutup. Dapat dikatakan kalau ia adalah manusia yang super cuek pada pembatasan alam dan masyarakat terhadap dirinya. Di samping itu manusia pisces sangat banyak dipengaruhi oleh intuisi dalam melakukan suatu tindakan. Dinyatakan juga kalau manusia pisces cenderung dapat melihat/memprediksi sesuatu di masa mendatang (walaupun tidak semua) mengingat mereka sangat dipengaruhi oleh intuisi dan kemampuannya mengolah firasat yang dirasakannya.

Pisces merupakan zodiak yang terakhir sehingga para pakar astrologi kerap menyebutnya sebagai “manusia setengah malaikat” sedangkan zodiak yang lain (dari Aries sampai Aquarius) dikenal sebagai setengah binatang plus setengah manusia (sorry, aku cuma ngutip kok).

Sebutan lain untuk keistimewaan manusia Pisces, misalnya bagi orang Arab disebut sebagai “hakikatul insan” atau manusia hakikat. Menurut orang Jawa mereka disebut “Sajatining manungso” atau manusia sejati. Ahli metafisika menyebutnya sebagai “manusia esoterik”. Esoterik itu sendiri berarti ‘rahasia’. Sedangkan dalam bahasa Inggris, manusia pisces disebut sebagai “The man With True Quality” atau manusia berwatak murni.

Namun perlu diingat ketika mendeskripsikan seseorang dalam ilmu zodiak, terdapat dua golongan utama pada masing-masing 12 zodiak tersebut, yaitu golongan jenis agung (evolved type) dan golongan jenis rendah (primitive type). Manusia Pisces jenis agung memiliki beberapa keistimewaan seperti yang diungkapkan sebelumnya, sedangkan manusia jenis rendah boleh dikatakan hampir sama dengan kemampuan manusia pada umumnya yang tindakannya banyak dipengaruhi oleh kehendak dan nafsu. (guna).


Fakta-Fakta Unik tentang Planet

Pengetahuan tentang planet-planet yang terdapat dalam susunan tata surya memang telah kita pelajari. Tetapi tahukah anda bahwa selain pelajaran yang telah kita dapatkan itu, terdapat sejumlah hal unik pada setiap planet tersebut? Berikut penjelasannya.


1. Seorang pemain orgel bernama William Herschel pada tahun 1781 menemukan sebuah planet dengan menggunakan teleskop buatannya sendiri. Planet tersebut dinamainya Georgium Sidium untuk menghormati Raja George III (Inggris). Tetapi 69 tahun kemudian planet tersebut diubah namanya menjadi Planet Uranus, sesuai dengan tradisi penamaan planet berdasarkan nama-nama dewa Romawi.

2. Planet Bumi dijatuhi debu meteor sebanyak 1.000 ton setiap harinya.

3. Dari keseluruhan permukaan planet Bumi, ternyata 71% tertutup air, dan hanya 11% permukaannya yang bisa ditanami.

4. Jika ada sejumlah orang yang ingin bergandengan merentangkan tangan untuk mengelilingi bumi maka ia harus mengumpulkan rekan-rekannya sebanyak 33.000.000 orang.

5. Planet Bumi memiliki gurun pasir terluas yaitu Sahara yang bertambah luas sekitar 1 km setiap bulannya.

6. Bumi yang kita kenal ternyata tidak sepenuhnya bulat. Radius Kutub Utara planet ini 44 mm lebih panjang daripada Kutub Selatan.

7. Pada abad ke-3 SM astronom Yunani Aristarchos berpendapat bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari, namun idenya tidak diterima. Pada abad ke-2 Masehi, astronom Yunani Ptolomeus menyatakan bahwa Bumi adalah pusat semesta. Dan uniknya, ide salah ini justru dipercaya orang selama 1.400 tahun.

8. Gunung Berapi terbesar dalam tata surya kita terdapat di Planet Mars. Namanya Olympus Mons dengan ketinggian 27 km, diameternya 624 km, dan lebar kawahnya 85 km. Dibandingkan dengan gunung berapi terbesar di bumi yang hanya berdiameter 120 km dan tinggi 10 km, Olympus Mons volumenya 100 kali lebih besar. Olympus Mons dikelilingi oleh Olympus Mons Aureole yaitu semacam lingkaran cahaya.

9. Cincin pada planet Saturnus sesungguhnya tidak padat dan terdiri dari kepingan es, debu, dan batuan. Namun lebarnya mencapai 400.000 km.

10. Planet Saturnus sebagian besar terdiri dari gas helium sehingga kalau dimasukkan ke dalam air, planet tersebut akan mengapung.

11. Saturnus tercatat sebagai planet dengan satelit terbanyak, yaitu 56 satelit. (Coba bandingkan dengan Bumi yang hanya memiliki satu satelit, yaitu Bulan).

12. Baru-baru ini Pluto dianggap bukan planet lagi karena orbitnya bersentuhan dengan orbit Neptunus.

13. Sebelum akhir abad ini salju-salju di wilayah Eropa diprediksi akan habis mencair. Akibatnya permukaan air laut juga diperkirakan akan meninggi 4 kali lebih cepat daripada abad sebelumnya.

14. Planet Merkurius, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus arah rotasinya berlawanan dengan arah jarum jam. Namun Venus arah rotasinya justru searah dengan jarum jam.

15. Udara yang kita hirup tidak sepenuhnya terdiri atas unsur oksigen. Sesungguhnya udara tersebut terdiri dari 78% gas nitrogen, 1% campuran karbon dioksida, argon, neon, helium, kripton, hidrogen, xenon, dan ozon. Kandungan oksigen hanya sebesar 21% saja!

Jika Planet Jupiter diibaratkan sebuah bola yang kosong, maka lebih dari seribu buah palnet Bumi bisa dimasukkan ke dalamnya. (guna*dari berbagai sumber)

Rabu, 14 Januari 2009

Warna Lokal Dalam Tradisi Penulisan Cerpen

Peringatan Sumpah Pemuda yang diadakan setiap tanggal 28 Oktober seolah mengikatkan kembali tentang betapa beragamnya khasanah budaya yang kita miliki. Cetusan perasaan dan tekad pemuda yang telah merumuskan tiga butir sumpah yaitu; mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia dianggap sebagai tonggak awal kebangkitan bangsa. Novelis Ayu Utami dalam Kompas Minggu 28 Oktober 2007, justru menganggap butir ketigalah sebagai rumusan yang “istimewa”. Mengingat dalam butir tersebut mengandung sebuah ikatan kebahasaan Bangsa Indonesia sebagai unsur yang lekat pada diri manusia sebagai mahkluk yang berbudaya.

Terkait dengan peringatan Sumpah Pemuda, kebhinekaan bangsa dalam karya sastra merupakan suatu bentuk nyata kecintaan kita, terutama para penggiat sastra, akan keberadaan bahasa Indonesia. Aktivitas bersastra dapat memberikan gambaran tentang Indonesia yang dikemas dalam berbagai tulisan sastra. Karya-karya tersebut tidak saja menyuguhkan bagaimana Indonesia melalui gambaran tentang nasionalisme secara nyata, tetapi juga melalui penggambaran tentang Indonesia yang sesungguhnya dalam bingkai kebhinekaan. Tentu saja yang dimaksud adalah bagaimana Indonesia tersusun dari berbagai budaya dan kekayaan daerah yang dapat dicermati dalam karya sastra itu sendiri.

Suasana kedaerahan atau tempat tertentu yang dilukiskan oleh seorang pengarang dalam karyanya yang didukung pula oleh pilihan kata, istilah, dan sikap serta lingkungan tokohnya dikenal dengan istilah warna lokal. Warna lokal umumnya melukiskan tentang latar (geografis dan juga sosial), adat istiadat, cara berpakaian, dan juga cara berpikir. Termasuk juga sikap hidup dan penggunaan bahasa pada suatu daerah tertentu sehingga dapat membangun suasana kedaerahan yang hendak dilukiskan oleh pengarang.

Keberadaan warna lokal dalam cerpen Indonesia tak pelak adalah upaya sastrawan untuk menghadirkan cerpen Indonesia yang membumi melalui pengungkapan unsur budaya lokalnya. Sebut saja Gerson Poyk dalam Nostalgia Nusa Tenggara , Oleng Kemoleng, Matias Akankari, dan Suara Sabana yang mengangkat warna lokal wilayah timur Indonesia (baca Nusa Tenggara Timur). Kekhasan budaya budaya Pulau Dewata (Bali) diangkat oleh Ngurah Parsua melalui karya-karyanya seperti yang terangkum dalam antologi cerpen Anak-anak, juga Gde Aryantha Soethama dalam antologi cerpennya Tak Jadi Mati, dan I Gusti Putu Bawa Samar Gantang dalam Sang Bayu Telah Mengiringi Kepergiannya. Demikian pula pesona dan eksotika kehidupan daerah pesisir (Minangkabau) yang dituangkan dalam cerpen-cerpen karya Raudal Tanjung Banua, dan salah satunya dapat kita simak dalam kumpulan cerpen Ziarah bagi Yang Hidup. Di samping juga beberapa penulis yang karya-karyanya termuat di media massa. Semisal, Rieke Diah Pitaloka yang mengangkat keunikan (dan juga kepercayaan) masyarakat Sunda tentang mitos-mitos yang terkait dengan kematian lewat cerpen Siit Uncuwing yang dimuat harian Kompas Minggu, 21 Oktober 2007 dan Ayu Utami yang “berbincang secara serius lewat jalur cerpen” tentang kemelut strata sosial/kasta di Bali dalam cerpennya Pemahat Abad yang termuat dalam antologi 10 Cerpen Terbaik Majalah Sastra Horison terkait edisi ulang tahunnya yang ke-34 tahun 2000. Selain beberapa cerpenis tersebut, nama Sunaryono Basuki KS. dan Faisal Baraas juga kerap menghadirkan cerpen yang berlatar warna lokal Bali, walaupun keduanya bukanlah orang Bali (baca kelahiran Bali). Namun karena interaksi dan intensitas pergesekan kesehariannya sebagian besar dilakoni di Bali, rupanya warna lokal Bali telah memberi pengaruh besar terhadap karya-karya yang dihasilkannya. Selain itu, kita tentu tak akan mengabaikan karya-karya Umar Kayam yang meneropong peri kehidupan belantara kota Amerika selain kerap menyisipkan opini tentang tanah kelahirannya Indonesia, justru ketika ia tinggal di negeri Paman Sam tersebut. Demikian juga Budi Darma lewat kumpulan cerpennya Orang-Orang Bloomington. Penulis yang disebutkan terakhir ini benar-benar berusaha menghadirkan suasana Amerika dalam karyanya tersebut. Dalam kumpulan cerita pendek Orang-orang Bloomington (1980), Budi Darma mendedahkan kehidupan tokoh-tokoh darah-dan-daging, meski mereka hidup bukan di tanah air si pengarang, melainkan di kota Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Sejak akhir 1960-an sampai hari ini Budi Darma terus menulis fiksi tanpa terikat kepada gaya tertentu. Akan tetapi sekian cerita pendek absurd-nya dari masa awal (yang baru pada 2002 terhimpun dalam Kritikus Adinan), Orang-orang Bloomington, dan Olenka adalah tiga faset terpenting dalam kepengarangan Budi Darma.

Uraian singkat tadi hanya sekadar menyebut beberapa nama sastrawan (khususnya cerpenis), yang menunjukkan betapa kuat dan konsistennya mereka untuk mengangkat warna lokal dalam karya-karyanya. Hal ini tentu saja merupakan suatu nilai positif dalam rangka memperkenalkan, melestarikan, dan memperbincangkan secara luas nilai-nilai budaya Indonesia yang tersebar dalam berbagai suku, wilayah, dan bahasa sehingga dapat kita nikmati secara mendalam, namun bukan melalui bacaan non fiksi yang kadang tidak semenarik pembacaan teks karya sastra. Di samping itu, beberapa karya yang menghadirkan suasana budaya “luar Indonesia” selayaknya tidak dikesampingkan begitu saja untuk dibaca. Karya-karya tersebut dapat dijadikan pengayaan dan juga sebagai bahan bandingan, mengingat fungsi sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat.

Namun, tak jarang kehadiran warna lokal dalam cerpen kadangkala justru “meninabobokan” pengarang yang cenderung mengesampingkan gaya penulisan mereka. Gaya atau style yang terabaikan karena pengarang terlanjur terlena dengan hanya mengandalkan pengalaman-pengalaman pribadi, dan warna lokal yang diketengahkan dalam karya-karya cerpennya sempat disoroti oleh Sutardji Calzoum Bachri dalam tulisannya Beberapa Penyakit dalam Cerpen Indonesia yang ditulis pada tahun 1972 dan dibukukan dalam buku Cerpen Indonesia Mutakhir:Antologi Esei dan Kritik dengan editor Pamusuk Eneste (1983).

Secara gamblang Sutardji menyebutkan bahwa sekarang lebih banyak pengarang-pengarang yang involved dalam masalah-masalah sosial, yang ingin menyampaikan ide-ide atau pikiran-pikirannya lewat cerpen-cerpennya. Tetapi bagaimana berhasil kalau mereka tidak meletakkan perhatian utama pada cara penyampaian, pada style? (hlm. 78).

Penulis yang menempatkan warna lokal sebagai bahan yang diharapkan dapat memperkaya penulisan cerpen-cerpen mereka, tentu saja adalah sebuah upaya mulia dalam rangka memperkaya khasanah kesusastraan Indonesia. Namun dengan membaca pernyataan Sutardji tersebut, sastrawan (seharusnya) merasa diingatkan bahwa ada hal lain yang tidak boleh terabaikan, yaitu cara penyampaian dalam bercerita. Keberadaan warna lokal dalam karya sastra (khususnya cerpen) hendaknya dicermati sebagai sebuah kekayaan yang dapat terus digali. Selanjutnya kekayaan yang telah tergali tersebut tidak hanya berhenti sampai di sana. Masih ada upaya memanage potensi yang telah tergali tersebut dengan unsur-unsur lain yang padu dalam membentuk kesatuan yang utuh dalam karya. Dan cara penyampaian hanyalah salah satu kepingan, seperti yang diingatkan Sutardji, sebagai pendukung pembinaan penggalian yang telah dilakukan terhadap budaya Indonesia sehingga mampu menghadirkan cipta-cipta sastra yang berkualitas. Karya yang tidak saja nyaman dinikmati pembaca namun juga diamini oleh para kritikus menurut teropong keilmuannya masing-masing. (guna). gambar diunduh dari www.bukubagus.com

Berwisata ke Alcatraz

Kalau di Indonesia kita mengenal pulau Nusa Kambangan sebagai tempat pembuangan para tahanan berat, Amerika memiliki Pulau Alcatraz. Pulau Alcatraz terletak di samudera pantai barat Amerika Serikat. Jika hanya dipandang sekilas, pulau ini memang tidak mempunyai daya tarik. Tetapi jika ditelusuri lebih jauh, maka baru akan terungkap keunikannya.


Pulau Alcatraz berjarak 1,4 mil atau 2,25 km dari Teluk San Francisco dengan temperatur air sekitar 55 derajat Fahrenheit atau 12,8 derajat Celcius. Alcatraz merupakan lembaga pemasyarakatan pada masa lalu untuk pelaku pelanggaran hukum kelas berat. Beberapa nama kriminil yang pernah mendekam di pulau ini di antaranya adalah kepala mafia Chicago, Al Capone dan Robert Stroud, yang dijuluki Birdman of Alcatraz.

Pulau Alcatraz merupakan kawasan penjara sebagai tempat penampungan bagi para penjahat yang sedang menjalani hukuman berat. Sebagai penjara pulau kecil, Alcatraz dikelilingi dengan lautan luas dan ganas. Sudah banyak tahanan yang mencoba melarikan diri, namun tak ada satu pun yang berhasil. Mereka akhirnya mati di tengah amukan samudera.

Kini penjara tersebut dijadikan salah satu objek wisata bagi para turis setelah ditutup sejak tahun 1963. Kunjungan wisatawan ke Pulau Alcatraz seringkali dijadikan sebuah paket wisata bagi mereka yang berkunjung ke San Francisco. Para wisatawan dapat mengunjungi pulau ini dengan menggunakan kapal feri.(guna) gambar diunduh dari upload.wikimedia.org

Senin, 12 Januari 2009

Kepunahan Beberapa Bahasa Daerah di Indonesia

Jika selama ini kita mengenal adanya ancaman kepunahan terhadap beberapa tumbuhan dan satwa maka hal yang sama juga terjadi pada keberadaan bahasa daerah. Tidak saja di kawsan Indonesia, tetapi juga pada tingkat dunia. Tak kurang dari tujuh ribu jenis bahasa diperkirakan akan mengalami kepunahan dalam waktu yang cukup dekat.

Bahasa dengan risiko punah diistilahkan sebagai endangered language. Indikatornya, apabila pemakainya sudah berhenti total atau masih dipakai hanya oleh beberapa kalangan (misal. orangtua), tetapi tidak diturunkan kepada generasi berikutnya.

Ancaman ini menurut pandangan beberapa pengamat bahasa perlu mendapat penanganan sesegera mungkin. Mengingat bahasa merupakan aset kebudayaan. Seperti yang dicetuskan oleh Koentjaraningrat yang memasukkan unsur bahasa sebagai salah satu dari tujuh aspek kebudayaan manusia. Tidak berlebihan memang, mengingat hanya manusialah yang memiliki kemampuan berbahasa dan memiliki kemampuan untuk menggunakannya dalam berkomunikasi.

Indonesia yang kaya akan bahasa daerah adalah aset bangsa yang kelestariannya kadang luput dari perhatian kita. Contoh kecil misalnya pada penggunaan satuan panjang. Dahulu para tetua kita mungkin masih akrab dengan penggunaan istilah depa, jengkal, dan hasta, namun sekarang sudah hampir hilang diganti dengan istilah meter. Selain karena keterbatasan dalam penggunaannya yang tidak lagi sesuai dengan konteks kebutuhan penggunanya, misalnya ukuran televisi mestilah inci, tinggi seseorang dalam konteks resmi biasanya meter atau sentimeter, hal tersebut terjadi diduga akibat tersendatnya proses transmisi bahasa ibu pada generasi berikutnya. Di samping itu, adanya pengaruh globalisasi juga dapat mengakibatkan pengaburan identitas suatu etnis yang ditandai dengan kehadiran bahasa-bahasa dunia yang mendominasi. Dominasi bahasa asing dan bahasa nasional secara langsung telah mendesak mundur bahasa-bahasa lokal. Bila hal itu terus berlangsung, bahasa daerah akan tersisih dan akhirnya musnah. Dalam tingkat penidikan formal, dominasi bahasa resmi juga dapat menggiring anak-anak berpersepsi bahwa bahasa tersebut lebih superior dibandingkan dengan bahasa ibunya. Lama-kelamaan hal tersebut dapat mengikis kebanggaan menggunakan bahasa leluhurnya, karena diangap sebagai bahasa yang sudah uzur.

Dalam buku Ethnologue yang terbit tahun 2005 disebutkan bahwa di seluruh pelosok Nusantara tercatat ada 742 bahasa daerah. Bahasa daerah terbanyak berada di kawasan Papua Barat berjumlah 271 macam. Lainnya tersebar di lebih dari 30 provinsi di Tanah Air. Beberapa bahasa yang diduga mengalami krisis kepunahan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, di antaranya tersebar di wilayah Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Menurut M. Rahman (http://www.gatra.com/artikel, 2007), di Kalimantan misalnya, ada satu dari 50 bahasa yang tak lagi digunakan. Di Sumatera, kepunahan dialami satu dari 13 bahasa yang ada. Sedangkan dua bahasa lainnya dalam keadaan kritis. Di Sulawesi, satu dari 110 bahasa telah lenyap, sementara 36 yang lain dalam ancaman besar. Di Timor, Flores, Bima, dan Sumba, tercatat ada 50 bahasa yang masih bertahan, tapi delapan di antaranya terancam. Di Papua dan Halmahera, dari 271 bahasa daerah, kini ada 56 bahasa yang hampir punah. Yang tergolong “cukup mampu bertahan” adalah bahasa daerah di Pulau Jawa. Walaupun tidak disebutkan jumlah bahasa di pulau ini namun tak satu pun memenuhi unsur ancaman kepunahan.

Pelestarian bahasa-bahasa daerah perlu mendapat perhatian kita mengingat peran bahasa yang sangat kompleks. Selain sebagai alat menyampaikan gagasan, bahasa juga digunakan sebagai alat penyimpan kekayaan, alat intelektual, dan penyampai sejarah. Cakupannya juga sangat luas, mulai dari bidang pertanian, lingkungan, kesehatan, astrologi, politik, dan juga bidang-bidang ilmu lainnya. Cabang-cabang ilmu tersebut secara sinkronis ditularkan di dalam komunitas dan secara diakronis ditularkan kepada keturunan mereka. Demikian juga halnya dengan bahasa Nusantara, dalam setiap bahasa daerah terkandung beraneka ragam ilmu sesuai dengan lokasi di mana bahasa-bahasa tersebut tumbuh dan hidup. (d. guna).


Novel Grafis:

Indahnya Simbiosis Mutualisme Komik dan Sastra

Di tengah perkembangan dunia seni bercerita yang makin kompleks, terdapat sejumlah karya yang menyebut diri mereka sebagai “novel grafis”, walaupun pada beberapa kasus julukan itu muncul (baca:diberikan) justru oleh pengamat atau bahkan kadang juga pembaca.

Ketika mendengar istilah novel maka bayangan yang paling mungkin muncul dalam pikiran kita adalah sebuah buku tebal penuh dengan huruf-huruf yang menceritakan berbagai kepelikan perilaku manusia di dalamnya.

Namun jika dihadapkan atau bahkan pernah menyimak apa yang terdapat dalam Blankets (karya Craig Thompson), atau semisal V for Vendetta (Alan Moore), Bordir (Marjane Satrapi), demikian juga Love Me Better (karya Rosalind B. Penfold), apakah anggapan anda tentang novel akan tetap sama?

Jika sederetan judul karya tersebut masih asing di pendengaran, cobalah tengok karya R.A. Kosasih lewat Mahabarata yang legendaris, atau goresan Ganesh Th. dalam Si Buta Dari Goa Hantu (sekadar informasi karya ini beberapa waktu terakhir ini beredar dalam judul versi berbahasa Inggris The Blind of The Gosht Cave).

Komik dan Sastra

Istilah novel grafis (diterjemahkan dari istilah asing “graphic novel”) bagi beberapa kalangan mungkin masih terdengar baru karena belum pernah mengapresiasi karya tersebut atau malah tidak menyadari kalau apa yang pernah ia baca sebenarnya merupakan sebuah novel grafis. Hal ini terjadi karena selama ini karya-karya “serupa itu” lebih dikenal sebagai komik. Yaitu serangkaian cerita yang dituangkan dalam rangkaian gambar dalam panel di mana dialog para pelaku tercantum dalam gelembung balon kata.

Ada yang menyatakan bahwa istilah novel grafis sebenarnya sama saja. Penggunaan istilah itu hanyalah sebuah terminologi marketing. “Graphic novel” lebih populer di Amerika untuk jenis komik dalam bentuk buku, sementara kalau bentuk kecilnya yang terbit harian di surat kabar disebut comic strip. Istilah comic juga lebih populer di Eropa, sementara di belahan dunia lain disebut manga, manhua atau manhwa. Pendapat ini muncul karena didukung oleh adanya anggapan bahwa komik bermula dari istilah pictograph yang memiliki contoh konkret berupa lukisan dinding dari jaman purba di gua-gua sampai masa kemegahan Mesir Kuno. Bagaimanapun juga perdebatan tentang novel grafis justru telah memperkuat definisi tentang novel grafis itu sendiri.

Memunculkan suatu definisi mengenai keberadaan novel grafis memang agak sulit. Namun bukan berarti tidak ada pembeda antara novel grafis dengan karya komik yang sudah lebih akrab di mata pembaca. Secara fisik novel grafis memang serupa komik atau dapat dikatakan “sama dengan komik”.

”Untuk memudahkan, novel grafis itu pasti komik, namun tak setiap komik masuk kriteria novel grafis,” tutur Mirna Yulistianti, Editor Gramedia Pustaka Utama kepada Kompas beberapa waktu lalu. Ditambahkan, bahwa novel grafis ceritanya lebih spesifik, unik, dan kompleks. ”Kadang hanya bisa dinikmati kalangan umur tertentu. Ini karena terkait ide filosofis atau politis penulis.” Dilihat dari ketebalannya, jika dibandingkan dengan komik pada umumnya maka biasanya komik tipis tapi serinya panjang, sedangkan novel grafis halamannya banyak, bisa ratusan, tapi serinya tak panjang, satu buku selesai ceritanya.

Dalam hal kualitas gambar atau kualitas grafis, teknik penggambarannya maupun gaya atau alirannya tidaklah terlalu tampak perbedaan yang signifikan dengan komik-komik biasa. Baik novel grafis maupun komik sama-sama menggunakan panel yang berurut menampilkan adegan demi adegan, dan penggunaan balon teks untuk mengungkapkan dialog di antara para tokohnya. Seperti yang diutarakan Scott McCloud (2008) bahwa pada dasarnya komik merupakan aliran pilihan yang berkesinambungan yang terdiri dari lima tipe dasar, yaitu: pilihan momen, pilihan citra, pilihan bingkai, pilihan kata, dan pilihan alur.

Demikian juga halnya dalam novel grafis. Hanya saja ketika membaca sebuah karya novel grafis akan terasa perbedaan pada alur cerita yang tertuang dalam rupa bahasa kata dalam balon teks atau dalam rupa bahasa visual lewat tarikan garis ekspresi wajah, bahasa tubuh, maupun sekuen gerak-gerak gambar yang berurutan. Suasana ringan yang biasanya didapat ketika menikmati komik-komik biasa akan sulit didapatkan pada karya novel grafis. Sebaliknya, cara penyampaian yang tidak biasa, baik dalam penyampaian teks maupun dalam penyampaian adegan-adegan visual yang begitu kreatif memakai aneka teknik perspektif, dengan segera akan membawa pembaca pada keunikan gaya bertutur sang pencerita yang punya ciri khasnya masing-masing, sama halnya seperti ketika sedang menikmati sebuah karya sastra. Inilah yang dapat menunjukkan perbedaan antara komik atau novel dalam pengertian konvensional. Novel grafis tidak hanya bertumpu pada kekuatan gambar seperti pada komik biasa, juga tidak pada kekuatan teks seperti layaknya karya novel. Kedua aspek visual dan bahasa lalu jadi unsur penting bersama-sama.

Lain lagi dengan pandangan Seno Gumira Ajidarma yang telah melahirkan novel grafis Jakarta 2039. Menurut lelaki yang juga telah mencipta Sukab:Intel Melayu ini, letak keseriusan sebuah novel grafis adalah adanya semangat pembobotan yang setara dengan sastra. Namun, sebagai suatu karya seni grafis menurutnya novel grafis juga punya prestis tersendiri. Sehingga sebagai karya yang punya bobot sastra dan punya prestis sebagai karya seni, novel grafis berbeda dari komik kebanyakan dalam hal tujuannya, serta ideologi di baliknya. Dalam novel grafis, unsur kompleksitas lebih terasa, sebagaimana kita bisa memperolehnya jika membaca novel sastra.

Lantas apa kelebihan novel grafis dari sastra yang kita tahu telah berumur lebih tua dan memiliki eksplorasi yang telah lebih luas? Tentu saja dalam novel grafis dipergunakan gambar berpanel (sebagaimana komik umumnya) sebagai “bahasa” selain juga mempertaruhkan unsur-unsur sastrawi seperti cerita, karakter, tema, pada dasarnya ia juga mempertaruhkan unsur-unsur seni rupa dan grafis. Membicarakan atau menikmati novel grafis dari sudut seni rupa pun akan membuka banyak ruang interpretasi tak terbatas.


“Novel grafis tidak hanya bertumpu pada kekuatan gambar, aspek visual dan bahasa menjadi unsur penting bersama-sama.”

Tema yang sengaja ditujukan untuk pembaca dewasa, garis cerita yang panjang dan kompleks, menjadikan novel grafis memiliki ciri tersendiri yang membedakannya dengan komik biasa. Hikmat Darmawan, seorang pengamat komik di Indonesia, malah memberi ciri lebih pada novel grafis sebagai karya komik yang memiliki ”ambisi sastrawi”.

Ambisi sastrawi yang dimaksud telah mensyaratkan bobot kualitas sastra dari karya yang disebut sebagai novel grafis dan membedakannya dengan komik-komik biasa. Dengan pengertian ini, dari segi format dan aspek sastrawinya, terdapat sejumlah angapan bahwa sebetulnya komik wayang Mahabarata karya R.A. Kosasih yang tidak pernah kekurangan penggemar sejak era 1960-an itu juga merupakan salah satu bentuk novel grafis di Indonesia. Hanya saja, alur ceritanya bukan merupakan karya otentik R.A. Kosasih karena merupakan interpretasi grafis terhadap kisah klasik Mahabarata ke dalam bentuk komik. ”Ambisi sastrawi” yang dimaksud mau tidak mau memang telah mendobrak tradisi industri komik biasa yang terbiasa memasung komikusnya dengan jumlah halaman yang dibatasi demi efisiensi biaya pencetakan. Bahkan kini penikmat novel grafis di Amerika Serikat sudah biasa dengan karya-karya yang melampaui jumlah 500 halaman.

Will Eisner

Pada tahun 1978, seorang seniman komik memunculkan sebuah karya fenomenal dan bagi sebagian kalangan dianggap sebagai “pionir” novel grafis dalam konteks perkembangan industri komik di Amerika Serikat.

Karya Eisner yang diberinya label novel grafis itu—seperti kekhawatiran penciptanya sendiri yang memprediksi hasil karyanya akan ditolak sebagai sebuah komik—mengalami penolakan dari berbagai penerbit lantaran ia mencantumkan hasil kerjanya itu sebagai sebuah novel grafis. Mengenai pencantuman istilah novel grafis itu sendiri Eisner kepada Time menyatakan: ”Saya duduk dan coba membuat sebuah buku yang akan tampak sebagaimana lazimnya sebuah buku, dan sekaligus ingin mengerjakan komik dengan tema yang sebelumnya tidak pernah dibuat.” Namun beruntunglah dia ketika ada sebuah penerbit kecil yang mau menerbitkan karyanya tersebut yang ia bubuhi judul A Contract With God.

Karya ini dirasa masih baru bagi publik Amerika karena ditulis tanpa batasan halaman seperti lazimnya komik sebelumnya yang relatif tipis dengan tema mayoritas tentang superhero. Komik ini pun secara sadar membahas tema dewasa—ragam cerita dan derita orang biasa (bukan "superhero"), sebuah roman sejarah tentang kaum migran Yahudi di Bronx, New York, pada 1930-an. Layaknya sebuah novel, karya ini mengandung kesadaran naratif, ide, pendalaman karakter, dan komplikasi plot. Eisner meniatkan karyanya sebagai novel, tapi berbentuk komik.

Bagi Eisner, komik adalah sebuah penjelajahan grafis, di mana komik itu sendiri terdiri dari banyak elemen grafis yang potensial membangun kisahan. Dalam warna hitam putih, Eisner bukan hanya menjelajah logika bayangan, tapi juga angle, physiognomy (ilmu bahasa tubuh), balon kata, "sound effect", font, bentuk panel, penderetan panel, dan banyak lagi. Mencermati hal tersebut maka sudah selayaknyalah ia mengukuhkan karyanya itu sebagai sebuah "novel grafis.”

Rupa Novel Grafis Dewasa Ini

Novel grafis bukanlah sebuah karya yang baru. Beberapa negara telah cukup lama mengenal gaya bercerita gambar-kata ini secara luas. Walaupun dengan variasi tingkat pertumbuhan yang berbeda-beda, perkembangan novel grafis tidak hanya terjadi di Amerika Serikat sebagai tanah kelahiran dan tempat paling subur berkembangnya novel grafis, tetapi juga hingga kawasan Eropa, Asia (Jepang yang terlebih dahulu kental dengan tradisi manga-nya). Sekadar menyebut beberapa karya saja yang berhasil penulis rangkum, di antaranya adalah: A Contract with God, Lost Girl, Persepolis, Bone, Epileptik, V for Vendetta, The White Lama, The Watchmen, Sin City, Epileptic, Usagi Yojimbo, Buddha, Uzumaki~Spiral, The Crying Freeman, Bordir, Love Me Better, Chicken Soup for the Soul (adaptasi buku Chicken Soup oleh Kim Donghwa), Che, Ethel and Ernest, Maus: A Survivor’s Tale, The League of Extraordinary Gentlemen, From Hell, Tank Girl, Nemesis the Warlock, Marshal Law, Tintin, Sin City (karya Frank Miller), A History of Violence, Lone Wolf and Cub, Persipolis, dan Embroideries (Marjane Satrapi), The Window of Orpheus (karya Riyoko Ideda), Cerebus. Blankets (karya Craig Thompson), Notes of A Defeatist (karya Joe Sacco ), A Man With Pulm, dan Sandman (karya Neil Gaiman).

Bagaimana dengan perkembangan novel grafis di Indonesia? Dilihat dari segi penerbitan karya-karya berupa novel grafis di Indonesia memang masih tergolong kurang. Beberapa karya yang bercirikan warna lokal Indonesia (baik dalam grafis maupun cerita) di antaranya adalah: Rampokan Jawa (karya Peter van Dongen), Sukab dan Jakarta 2039 (karya Seno Gumira Ajidarma), Mahabarata (karya RA Kosasih), Selamat Pagi Urbaz (Beng Rahardian), Blacan: Rindu Dendam (karya Wisnoe Lee), Trilogi Sandhora dan Sebuah Tebusan Dosa (karya Teguh Santosa), Misteri Kematian Si Dewi Racun ( karya HAR), Kucing (karya Wid NS) Buku Tamu Museum Perjuangan (1981) dan Balada Lelaki- lelaki Tanah Kapur (1982) keduanya (karya Hasmi).

Beberapa judul bahkan hanya beredar satu kali terbit tanpa ada terbitan yang kedua. Novel grafis yang terpajang pada rak-rak toko buku pun sangat terbatas jumlahnya. Beberapa karya dalam bahasa Indonesia yang disebutkan tadi hanya ada satu atau dua judul yang masih beredar di pasaran. Lain lagi halnya dengan karya-karya novel grafis luar negeri. Sebagian besar karya tersebut masih beredar dalam bahasa aslinya. Akibatnya, bagi pembaca yang tidak memahami bahasa aslinya kemungkinan besar akan sulit mengerti isi cerita walaupun masih bisa ‘diraba’ (dinalar) lewat gambar yang tersaji. Sebagai pembaca tentu saja kita boleh berharap kalau suatu saat karya-karya tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karena dengan apa lagi kita dapat bercermin tentang diri dan kehidupan kita kalau bukan melalui karya sastra dengan beragam lekuk-likunya, baik dalam hal ragam penyajian maupun medianya.

gambar diunduh dari:will-eisners-the-spirit-trailer.blogspot.com