Minggu, 12 Februari 2012


Menulis Novel Versi “Gampangnya” Arswendo


Bagi seseorang yang ingin menulis namun masih bingung untuk menulis apa, yang diperlukan mungkin adalah sebuah tutorial atau sekadar pelentik semangat untuk tetap konsisten menulis.
Sebuah buku yang cukup sering dijadikan acuan panduan menulis adalah karya Arswendo Atowiloto, yaitu Mengarang Itu Gampang. Meskipun cukup kontroversial namun buku yang disajikan dalam suasana dua orang sedang bercakap-cakap ini cukup membantu mengarahkan kita yang “bingung arah” ketika menulis, terutama karya fiksi. Secara sederhana dan kocak, penulis mengajak pembaca untuk perlaan-lahan paham tentang dunia menulis fiksi sambil menggelitik kita untuk sekadar menggoreskan pena, atau sekadar menekan beberapa tuts mesin tulis untuk menghasilkan selembar karya fiksi.
Rupanya, gebrakan gampang ala Arswendo tak berhenti hanya menulis fiksi pendek. Melalui karya lainnya, Mengarang Novel Itu Gampang, ia “menggampangkan” lagi bagaimana seseorang dapat menulis sebuah novel. Dalam edisi baru tersebut Arswendo memulai perbincangan si pebelajar dan penulis—seperti buku sebelumnya yang juga menyajikan perbincangan dua orang—seolah konsultasi dari tingkat paling awal, yaitu mengaitkan dengan buku sebelumnya. Secara ringan isi utama buku ini dimulai dengan sebuah pertanyaan; Saya sudah baca tulisanmu Mengarang Itu Gampang. Sekarang saya ingin mengarang novel. Bagaimana caranya? (hlm. 9). Nah, bermula dari pertanyaan itulah buku setebal 207 halaman ini seolah perlahan-lahan menggiring kita untuk turut mangut-manggut mengiyakan gagasan penulis bahwa menulis itu memang gampang.
Ditambah lagi dengan suplemen berupa 6 bab tambahan sebagai lampiran yang menguraikan tentang bagaimana riwayat penulis hingga akhirnya bisa jadi pengarang. Meskipun tetap tersaji dalam ragam tanya jawab, namun bab pertama dari tambahan tersebut cenderung adalah paparan biografi penulis. Selanjutnya dalam lima bab yang tersisa disampaikan secara langsung bagaimana contoh nyata penulisan sebuah novel. Contoh yang disajikan di antaranya adalah proses perampugan novel Keluarga Cemara hingga menjadi serial televisi dan juga ide dan proses penulisan Senopati Pamungkas. Tak salah memang kalau Toko Buku Gramedia pada situsnya menyebut buku Mengarang Novel Itu Gampang adalah buku tentang mengarang yang paling sering dicetak ulang (lebih dari cetakan ke-10) dan  paling banyak dikomentari atau disebut dalam pembicaraan.
Melihat isi yang disajikan, dan embel-embel kata ‘gampang’ pada judul buku sudah pasti akan menggerakkan kita paling tidak untuk sekadar membaca. Syukur-syukur mau tergerak untuk menulis. Namun, tanpa maksud meragukan ataupun menggugat pemakaian kata ‘gampang’ maka perlu juga ditengok sedikit selentingan Eka Budianta dalam bukunya Menggebrak Dunia Mengarang yang justru meragukan kesan ‘gampang’ dalam dunia kepenulisan. Secara kocak Eka menanggapi, kalau memang mengarang itu adalah hal gampang, mengapa buku Arswendo tidak dibagi-bagikan saja kepada seluruh narapidana di Rutan Cipinang, tempat Arswendo sempat merasakan bagaimana dunia penjara hingga akhirnya justru menghasilkan buku Menghitung Hari. Menurut Eka, mengarang tidaklah segampang mengucapkan kata gampang. Paling tidak ada sejumlah hal yang harus dipertimbangkan.
Terlepas dari gampang atau sekadar menggampangkan sebuah proses rumit penciptaan karya fiksi, maka buku ini layak dibaca oleh siapa saja. Sebab keterampilan menulis, mengarang, atau sekadar menulis surat dewasa ini rupanya adalah kemampuan dasar  yang selayaknya dimiliki setiap orang. Apalagi jika kemampuan menulis mau ditingkatkan hingga pada proses penciptaan karya sekaliber novel, tentulah kehadiran sebuah buku panduan yang mampu menghadirkan langkah-langkah mulai dari penetapan komitmen menulis, pengembangan karakter, pemilihan kata, penyusunan dialog, penggambaran suasana dan lokasi, hingga bagaimana memasukkan unsur humor, pun sekelumit tentang penulisan kreatif cukuplah menggugah minat dan bisa juga dibaca secara “asal buka” sesuai topik yang diinginkan.
Jadi sebelum dibuktikan apakah mengarang novel bisa jadi ternyata gampang atau justru hanya gampang jika diteorikan dalam sebuah buku panduan, buku Mengarang Novel itu Gampang layak dijadikan sekadar pembuka jalan ataupun panduan, bahkan pembakar semangat untuk konsisten menulis. Sebab seperti yang disampaikan penulis dalam sebuah bab di buku ini “Ingat, karangan tidak bisa disebut novel kalau belum selesai. Maka itu harus diselesaikan. Tidak bisa selesai dengan sendirinya.” (hlm. 21).
Semoga tulisan ini meginspirasi, dan hanya satu seruan “Mari menulis!” (gL)